Jumat, 06 April 2018

Persiapan Ramadhan

Selayaknya prestasi dicapai dengan persiapan, begitu pula ramadhan.
Semangat hanya bertahan diawal ramadhan bisa disebabkan karna kurangnya persiapan. Tidak hanya mental, tetapi juga fisik serta rutinitas ibadah perlu dilatih sehingga pada saat ramadhan tetap stabil…. Pastikan juga kita sudah menyelesaikan hutang puasa tahun lalu

Ada beberapa hal yang sebaiknya sudah dipersiapkan;
1.      Fisik
-       Olahraga
Bagaimanapun juga tubuh akan merespon perubahan kebiasaan sehingga wajar jika mengalami sedikit lebih lemas. Oleh karena itu cobalah untuk berolahraga sebelum ramadhan, selain meningkatkan daya tahan tubuh, olahraga juga mengkontrol konsumsi makanan yang baik.
Cukup olahraga yg santai saja, seperti; jalan kaki, lari atau naik turun tangga yg bisa dikerjakan di rumah, sekitar 20-30 menit/ hari

-       Pemeriksaan kesehatan mulut & gigi
Sebab aroma tak sedap pada saat puasa bukan sekedar karena perut kosong, tp bisa karna pola pencernaan yg tak baik atau juga kondisi mulut & gigi.
Biasakan rutin melakukan pembersian gigi (scaling) di dokter, karna ini membantu mencegah bau tak sedap.

-       Pola makan
Untuk menjaga puasa kita tetap berenergi jg dengan pola makan, usahakan maksimalkan buah dan sayur mulai dari sebelum ramadhan akan menjadi kebiasan pemilihan menu yg baik. Sehingga proses detox puasa juga tercapai

2.      Beragam aktivitas
-       Kebutuhan rutin
Khusus warga perkotaan, macet dan penuhnya tempat perbelanjaan akan sangat pertambah parah saat ramadhan, usahakan kebutuhan rutin sudah terpenuhi sebelum ramadhan sehingga kita dapat memaksimalkan waktu ramadhan.

-       Kebutuhan special
Biasanya ada kebiasaan penyambutan idul fitri seperti membuat kue kering dan pakaian baru. Usahakan sudah dilakukan sebelum ramadhan, terutama pakaian baru, karena ini akan sangat menyita waktu dan tenaga. Jangan lupa sebelumnya juga periksa lemari kita, pakaian mana saja yg masih layak tp sudah tidak digunakan lagi, bisa kita sumbangkan..
Sedangkan untuk kue kering bagi yang tidak berdagang bisa membuatnya sebelum ramadhan. Tidak akan mempengaruhi kualitas rasa jika pemilihan bahan baru, berkualitas dan terigunya di gongseng dulu. (*percaya deh, karena keluarga saya pun melakukannya)

-       Mengisi waktu luang
Pengisian waktu luang ramadhan tidak hanya tidur, kita bisa membaca buku dan mendengarkan kajian2.
Untuk buku sebaiknya tema diluar ‘percintaan’ karna terkadang membuat galau.. hehehhe, banyak ko buku-buku menarik sejarah, biografi yang disajikan dalam bentuk novel… belilah dari sekarang J
Jadwal kajian di masjid atau lembaga lain biasanya sudah ada beberapa minggu sebelum ramadhan, sehingga kita bisa atur waktu untuk mengikutinya.
Sedangkan yang betah di rumah seperti saya, mendengarkan kajian di youtube juga dapat mengisi waktu luang, saya rekomendasikan tokoh seperti Omar Suleiman, Nouman Ali khan, Kamil Ahmad, Bilal As-sad.. Mereka cukup lembut dan menyentuh jika berbicara.., dan pembacaan al-qur'an saya sarankan Mishary Rashid Al-afasi

3.      Latihan ibadah sunnah
Jika ingin mencapai target-target ibadah, maka perlu dilatih dari sekarang, seperti; shalat sunah (rawatib, dhuha, tarawih & tahajud)
Begitu juga membaca al-qur’an, jika ingin menyelesaikan 1-3x khatam maka dilatihlah bulan sebelum ramadhan.. serta sedekah. Bahkan untuk membiasakan tubuh kita puasa sunnah dapat dilakukan jg sebelum ramadhan.
Nah kalau mau bacaan shalatnya lebih beragam, bisa ditambah lg hafalan surat-surat pendeknya.


Yuk kita coba dari sekarang……
SELAMAT DATANG RAMADHAN 2018






Jumat, 02 Maret 2018

CANDU MEDIA SOSIAL

Hampir satu tahun sudah saya tidak produktif menulis lagi, bahkan kuantitas bacaan pun jauh berkurang.. Ini disebabkan saya yang tak pandai mengendalikan diri dalam menggunakan media sosial.., terutama aplikasi dan fiturnya yang terus berkembang sehingga seakan candu untuk dinikmati.

Kemajuan teknologi digital telah memberi kita banyak kemudahan dan kenyamanan, dengan hanya beberapa sentuhan di smartphone kita dapat melakukan banyak hal dari mulai bersosialisasi hingga bertransaksi tanpa beranjak dr tempat.
Oleh karena itu, bagi banyak orang tentu teknologi dan media sosial menguntungkan.

Tapi benarkah hal ini membuat kita bahagia dan manusiawi..?

Derasnya informasi dalam genggaman membuat kita makin berpengetahuan dan bijak dalam bersikap dan bertindak..?

Dengan waktu luang yg disediakan oleh kemudahan membuat kita makin berkualitas sehingga hidup kita lebih bermakna.?

Tidakkah pertanyaan ini pernah terlintas di benak kita..?
Yang jelas, teknologi dan media sosial telah merubah kita. Setidaknya ada anggaran tertentu untuk ini. Mulai dari layanan internet hingga kualitas smartphone..
Mungkin anggaran yang dikeluarkan tidak sebesar kerugian kita akibat dampak negatif nya yaitu “kecanduan
Dengan adannya layanan wifi dan powerbank semakin dapat memenuhi rasa kecanduan tersebut..

Hal inilah yang membuat kecanduan smartphone bukan tanpa sengaja tetapi “by design”. Seperti aplikasi yang banyak digunakan yaitu; game, belanja online dan media sosial. Perusahaan-perusahaan ini rela mengeluarkan dana yg besar untuk meriset perilaku konsumen. Mereka berusaha untuk mengikat konsumen agar sesering mungkin mengakses aplikasi mereka.. Kecanduan lah yang menjadi hasilnya.

Banyak orang teralihkan perhatian mereka seketika. Waktu luang lebih banyak yang dibebaskan oleh kemudahan teknologi dihabiskan untuk perhatian-perhatian yang kurang berkualitas, bahkan dari soal konkrit didepan mata.
Belum lagi dampak psikologis yang dihasilkan, perkembangan mental dan emosi dari kecanduan ini yang jauh lebih dalam.

Taukah kawan, para inovator dunia digital lebih banyak memasukan anak-anaknya di sekolah tanpa smartphone utk menghindari dampak negatif kecanduan. Bahkan Justin Rosenstein, salah satu perancang Gchat dan penemu tombol “like” di Facebook, mengharamkan Snapchat untuk dirinya sendiri, menyebutnya serupa dengan heroin..

Benarkah serupa dengan heroin…?
Jika kita mau lebih terbuka, media sosial langsung ataupun tidak menciptakan impian-impian penggunanya.. Ada kebahagiaan imajenasi yang ditawarkan, kepalsuan diri dan kepopuleran..
Kita suka mengabadikan hal-hal di dunia maya ini. Bahkan bisa memunculkan karakter yang bukan diri sendiri, menjadi orang lain, dan menikmati karakter di media sosial ketimbang dunia nyata.. Lebih menyukai ‘terlihat bahagia’ ketimbang bahagia sesungguhnya,.. lebih percaya dengan opini pemerhati ketimbang keyakinan diri......  Hingga kehilangan diri..
Bukankah heroin juga berdampak kehilangan diri..?

Mungkin kita tak merasa sampai sejauh itu, toh masih jujur-jujur saja dalam mengabdikan atau memberikan informasi. Tak berpengaruh seberapa banyak "like" atau "viewer". Tapi sadarkah kita bahwa media ini telah meresap serpihan perhatian kita terus menerus, sehingga mempengaruhi cara berfikir dan bertindak tanpa kita sadari.. tak menyadari bahwa kita seperti daun yang terjatuh di aliran air… bergerak, tapi sejatinya diam. Karena yang bergerak itu adalah airnya..

Kawan.., banyak teknologi baru diciptakan untuk kemaslahatan manusia, tapi sepanjang sejarah kita juga menyaksikan banyak efek samping yang tidak dihendaki. Kendalikan dan kuasailah teknologi tanpa mengikis diri.., sehingga kita tetap menjadi manusia seutuhnya...



Selasa, 14 Maret 2017

Yup, Aku Munafik....

Teringat kisah Hanzhalah (salah seorang juru tulis Rasul) dan Abu Bakr.
Ketika itu Hanzhalah menyatakan dirinya munafik saat Abu Bakr menanyakan kabar, karena ia teringat surga dan neraka saat bersama Rasul, tetapi ketika keluar majlis sibuk dengan anak, istri dan pekerjaannya sehingga lupa.
Abu Bakr pun merasa demikian, sehingga ia menghadap Rasul dan menyatakan hal yang sama. Kemudian Rasul memberi saran untuk konsisten dalam mengerjakan amalan. (riwayat lengkap bisa cek HR Muslim no. 2750)
Dikatakan juga oleh Ibnu Abi Mulaikah, bahwa ia mendapati 30 orang sahabat Nabi yang kawatir akan kemunafikan (HR. Bukhori No. 36)

Mereka adalah sahabat yang mulia tetapi kawatir ada kemunafikan pada dirinya, lalu bagaimana dengan kita..??

Jika merujuk pada ciri orang munafik, maka Aku Munafik..
Aku pernah berbohong, Aku pun pernah mengikari janji… Tidak hanya itu, terkadang Aku berwajah dua dengan ingin tampil baik dimata orang lain.
Menyampaikan kebaikan kepada orang lain yang belum dapat Aku kerjakan.

Mengaku bertuhan Allah, tetapi menggantungkan harapanku ke makhluknya..
Mengaku Rasul adalah teladan, tp akhlakku buruk
Mengaku Al-Qur’an pedomanku, tp tetap enggan memahami lebih dalam.
Pernah juga aku melanggar apa yang diperintahkan Allah

Yup itulah aku, Munafik..
Jika kalian tau aku sebenar-benarnya, maka niscaya kalian akan menjauh dariku….
Jika bukan karna kasih sayang Allah menutup segala aibku, mungkin aku sudah terasing

Tetapi, perkataan Imam Ahmad membuatku sedikit lebih tenang
Beliau pernah ditanya “Apa yang kau katakan pada orang yang tidak kawatir dirinya munafik?” Ia menjawab “Apa ada yang merasa aman dari sifat kemunafikan?”

Begitu juga perkataan Hasan Al-Basri
Orang yang khawatir terjatuh pada kemunafikan, itulah orang mukmin. Yang selalu merasa aman dari kemunafikan, itulah senyatanya munafik.”(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 491).

Aku benar-benar tak tau apakah kekawatiranku akan kemunafikan menandakan aku mukmin..? atau memang aku benar-benar munafik..?? karna ciri kemunafikan itu merujuk padaku.
Saat ini aku hanya bisa terus belajar dan berusaha untuk memperbaikinya.. karena sungguh aku tak tau akan hatiku sendiri. Sudah berapa banyak noktah yg ada….

Oh Allah….
Yang Hatiku ada digenggamanMu…
Hanya Engkaulah yang dapat membolak-balikan Hatiku
Tetapkanlah aku pada DeenMu
Dan wafatkanlah Aku di Masjid Nabawi, Madinah
Yang penghuninya tak pernah tau kemunafikanku
Sehingga Aku tetap disholatkan…






Jumat, 27 Januari 2017

Aku Muslim Palsu

Kalau ini bukan sunyi, apa namanya..?
Kanvasku kosong, tak sanggup ku lukis apa-apa
Pahamku hampa, rumusanku sirna
Jiwaku kesuh, langkah-langkahku amat gugup

Hidupku terjungkal-jungkal
Padahal tidak ada batu mengganjal
Pikiranku kehilangan bangunan
Ilmuku tinggal segaris, dan sosok-sosok buram

Aku lumpuh, tertelungkup bersujud
Sujud terus tapi hatiku macet
Pikiran tak mau kusuruh pergi
Jiwaku memasuki kebuntuan

Mata siapa bisa kupinjam
Untuk melihat benar kehidupan
Telinga siapa bisa kupasang
Untuk menangkap setiap getaran
Aku fakir miskin yang buta dan tuli

Palingkan muka dariku
Jangan percaya pada hidupku
Semua perilaku dan karya-karyaku
Adalah tipu daya yang menjebakmu

Kata-kata dan lagak juangku adalah ranjau
Berhati-hatilah terhadap jilbab dan sembayangku
Jangan sekali-kali dengarkan ucapanku
Sebab sesungguhnya aku muslim palsu

Senin, 09 Januari 2017

Duka Patah Hatiku

Berkobar semangatku kembali mengunjungi kotamu
Rinduku pada ketenangan kotamu

Aku duduk jauh di depan tembok samping makammu
Riuh rendah lalulalang para pencintamu disekelilingku
Kucoba pejamkan mata memusatkan hatiku kepada cintamu
Kucoba khusyu’kan hati ini, tetapi hanya kehampaan.
Pecah tangisku tanpa kutau sebab musababnya

Ya Habiballah.., bukan kali pertama ku mengunjungimu
Aku faham tak pernah pantas aku bertamu
Aku datang kembali dengan membersihkan sejarah hidupku
Tapi tetap bau busuk ini melekat

Ya Rasul, berulang-ulang kali aku berwudlu membersihkan diri
Tetapi terlalu suci Ya Rasul, wajahmu terlalu indah
Untuk dikotori oleh kebusukan sejarah kegagalan kemanusiaanku

Wahai kekasih Allah.., Aku sujud mati kepada Allah
Memohon perkenankan berjumpa dengan kekasih-Nya
Kupenuhi darah dan jiwa dengan pernyataan cinta

Tapi mataku tak bisa memandang
Coba kupejam-pejamkan mata
Yang muncul kegelapan dan putus asa
Perlahan aku menjauh darimu, meleleh duka patah hatiku

Kutambahkan permohonanku padamu Ya Allah, dengan rasa malu akan busuknya aku
Saat tiba masa itu, maka akhiri masaku di Madinah Almunawwarah tepat di Nabawi 
Dalam keadaan bersujud dengan kerendahan derajatku

Kamis, 20 Oktober 2016

Benarkah

Benarkah aku seorang Muslim..??
Saat berkali-kali ku masuk lubang yang sama

Benarkah aku umat Muhammad..?
Saat ucapan dan perilaku ku lebih sering tak terkendali

Benarkah pedomanku Al-Qur’an..?
Saat Ia hanya sekedar bacaan rutin

Benarkah Aku seorang manusia..?
Saat tak ada lagi yang dapat dimulyakan dariku

Benarkah aku percaya kepadaMu Allah..?
Saat kugantungkan harapanku pada selainMu

Benarkah aku mencintaiMu Allah..?
Saat pikiranku dikuasai dunia
  
Tapi selalu ada satu yang benar
Bahwa hatiku ingin selalu kembali padaMu
Bahwa hatiku merintih, menangis dan memohon pertolonganMu
Saat pikiran dan Nafsuku merusaknya

Tapi…
Benarkah aku merasakan kerusakannya..??
Saat hati ku sudah lebih dulu mati