Rabu, 28 November 2012

Sepakbola Menyatukan bangsa Indonesia

Saya bukan termasuk orang yang menggemari sepakbola, tetapi ketika Indonesia bertanding antusias untuk mengetahui siapa yang menang (walaupun tidak menonton).

Ya, mungkin banyak juga orang seperti saya. Bahkan ada juga yang tadinya tidak suka jadi berubah suka, terlepas dari pemainnya yang ganteng-ganteng atau memang suka olahraga. Tetapi saya dapat pastikan bahwa hampir seluruh bangsa Indonesia mengingikann negaranya menang.

Setiap pertandingan Indonesia dengan nengara manapun jadi sebuah magic yang menyatukan semua keinginan, terlelapas dari suku, kelompik, agama, partai apapun. Terpelajar atau tidak, kaya atau miskin, orang kantoran atau lapangan, Semua bersatu dalam satu keinginan dan gelora untuk Indonesia menang.



Semangat itulah yang terlihat di Gelora Bung Karno ketika pertandingan sepakbola berlangsung di GBK beberapa waktu lalu.. Bagaimana suporter Indonesia dapat menggetarkan lawan dengan semangat yang membara entah dari mana suporter itu berasal, pecinta sepak bola, cewe-cewe mall dengan gaya mereka, anak-anak alay, tua muda berkumpul untuk memberikan suport. Perbedaan perbedaan yang ada tiba-tiba lenyap, menyatu menjadi semangat untuk Indonesia.

Jelas sekali rasa nasionalisme yang ada ini dapat menyatukan kita semua. Bangsa Indonesia masi memiliki rasa nasionalisme yang sangaaat besar untuk negaranya. Sadarilah itu


Selasa, 20 November 2012

Pemikiran partisan membatasi kita

Pada saat saya mendengarkan materi kuliah masa S1 dulu, ada seorang dosen yang membuka cara berfikir saya yang kaku.. Saat itu pembahasan mengenai bagaimana seorang memiliki karakter yang berbeda-beda. tentu nya semua dibentuk oleh lingkungan. Dimana ia tinggal, bagaimana ia dididik bahkan bagaimana ia diberikan makan. Semua itu akan membentuk kepribadian setiap manusia dan mengakibatkan beraneka ragam karakter. Pernyataan ini membuat saya mulai terbuka dengan berbagai macam orang.

Begitu juga cara berfikir, setiap manusia memiliki cara berfikir yang berbeda-beda dan memiliki alasan masing-masing yang diyakini. Hal ini juga terbentuk dari ilmu yang dipelajari dan pergaulan yang dijalani. Apakah ini wajar, ya. ini memang wajar. Semua memiliki perbedaan.

Banyak manusia masa kini, termasuk para intelektual terjebak pada cara berpikir partisan. cara berfikir seperti ini mengelompokan yang bersebrangan, kalau bukan A maka pasti B, kalau bukan B pasti A
Pemikiran partisan seperti ini  adalah pemikiran kebanyakan orang di mana kalau dia memiliki keyakinan terhadap A, maka yg lain salah di matanya.berpikir partisan ini yang membuat orang menentang duluan baru bertanya sebab musababnya, sadar juga kan kalau mayoritas pertiakaian yang ada khususnya di Indonesia memiliki dasar perbedaan keyakinan diri atau perbedaan kelompok.

JIL merasa FPI fundamentalis
ITJ merasaJIL mempropagandakan Islam
Muhammadiyah merasa NU mencapuradukan Islam dengan budaya
Penggemar rock merasa pop cengeng
Penggemar Jazz merasa dangdut kampungan

Marilah kita coba memahami barulah beri keputusan, maka kita akan dapat memaklumi setiap kondisi dan keputusan setiap orang. Kita memiliki logika yang dibentuk oleh lingkungan kita, begitupun yang lain. mereka meiliki logika yang dibentuk oleh lingkungannya. Jika kita liat film atau bacaan berkaian dengan psikologi atau permasalahan karakter, kita akan temukan alur masa lalu yang membetuk karakternya. Sehingga setiap orang memiliki keputusan yang berbeda-beda, termasuk orang jahat. Mereka mungkin memiliki keputusan yang salah untuk melalukan niat buruknya.., lalu bagaimana keadaannya yang memaksanya melakukan tindakan kejahatan.

Pola pikiran partisan ini akan membatasi pikiran dan mengelompokan benar  dan salah berdasarkan ego sendiri, membuat kita memilih untuk berteman, memilih untuk membaca, memilih untuk mendapatkan informasi sehingga kita hanya berada dalam lingkungan kita sendiri. tidak berwarna karna hanya memiliki warna yang satu.

Mari kita mencoba untuk memahami setiap orang berdasarkan latarbelakangnya, karena kita terlahir dengan lingkungan yang berbeda-beda dan tidak pernah minta dilahirkan dalam kondisi atau pemikiran tertentu dan Memahami membuat kita wisdom