Senin, 27 Mei 2013

Gaya Bahasa

Bima, sosok pahlawan superhero yang akan ditayangkan dalam stasiun TV swasta ketika saya tidak sengaja melihat cuplikan iklannya. Terlepas bagaimana nanti film itu dikemas, saya langsung teringat sosok Bima dalam wayang Indonesia. Bima termasuk tokoh yang unik, sebagai salah satu Pandawa, ialah yang cenderung urakan, tetapi hanya Bima yang dapat menemui Tuhan (Dewa Ruci) bukan Ajuna, Yudhistira atau tokoh Pandawa lainnya yang dikenal lebih religius dari Bima.

Bima adalah Pandawa yang menarik buat saya terutama dia dikenal merakyat dalam hal penggunaan gaya bahasa, Bima selalu menggunakan bahasa ngoko ketika berbicara dengan rakyat bahkan kepada kakaknya Yudhistira. Ngoko adalah tingkatan bahasa jawa yang digunakan untuk level sederajat, krama madya level diatas sedikit lebih tinggi, dan krama inggil level tertinggi dalam bahasa Jawa. Biasanya jika berbicara dengan yang lebih tinggi tingkatannya seperti Bima ke Yudhistira minimal menggunakan krama madya, tetapi ini tidak dilakukan. Bima hanya berbicara dengan krama inggil ketika bertemu dengan Tuhan (Dewa Ruci), Bima mengangap bahwa gaya bahasa level tertinggilah yang pantas digunakan hanya untuk Tuhan. Prabu Kresna kangen dengan Bima karena suka mencemoohnya. Hal ini lah sisi keunikan Bima yang cukup menarik..

Gaya bahasa yang digunakan Bima, membuatnya merasa bahwa dirinya adalah sama dengan rakyat walaupun Bima masuk dalam Pandawa, Bima juga menganggap seluruh Pandawa juga sama derajatnya tak ada yang lebih tinggi. karena itu Bima dikenal urakan. Dalam gaya bahasa kita saat ini juga memiliki tingkatan tersendiri, bagaimana kita berbicara dengan menggunakan menyesuaikan gaya bahasa ditentukan dengan level siapa kita berbicara. Sebenarnya tidak ada masalahnya ada berbagai gaya bahasa dan tingkatan-tingkatan, toh memang diperlukan juga. Tetapi ketika gaya bahasa tersebut digunakan sebagai simbol kemunafikan barulah menjadi masalah....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar